Menunggu

“Menunggu” (Sebuah Catatan Harian)
Sebuah Catatan Harian

by; ian

Menunggu, bagi sebahagian orang adalah pekerjaan yang menyebalkan. Namun, kadang kita perlu bersyukur saat kita harus menunggu. Suatu ketika, sehabis pulang dari kerja saya singgah makan siang disuatu kantin, saya harus menunggu selama 20 menit untuk sebuah makanan yang saya pesan. Ah, ini sangat menjemukan. Saya tak mau menunggu lebih lama lagi untuk hal ini. Perut saya sudah sangat lapar, tenaga dan pikiran saya cukup terkuras . namun makan siang itu tak kunjung datang. Dalam benak saya, maka tersusunlah kata-kata sinis yang akan saya lontarkan pada si pedagang saat ia tiba dengan makanannya. Sudah terlintas dalam pikiran, saya akan memprotes kerja si pedagang yang begitu lambat.
Sambil terus menunggu, saya mulai membolak-balik Koran yang saya bawa. Banyak sekali berita. Namun, saya tertarik pada sebuah foto tentang pengungsi. Disana, terlihat antrian pengungsi yang sedang menunggu jatah makan. Entahlah, apakah itu makan siang atau makan malam. Setiap orang, tampak dengan wajah muram, meneteng apa saja yang bisa dipakai untuk tempat roti dan gandum.
Tampak seorang nenek dengan baju tebalnya, menggigil kedinginan, membawa sebuah kantong kosong, ditemani cucunya yang tak kalah menggigil. Wajah mereka pucat memelas, berharap mendapat jatah yang cukup untuk makan mereka hari itu. Tatapan mereka tampak kosong, sekosong setiap kantung yang mereka bawa. Saya terus perhatikan foto itu. Ya, foto itu cukup besar, dan berbicara baik sekali tentang arti kelaparan. Ah, saya jadi malu sendiri. Degh, hati saya tersentuh dengan foto itu.
Ya, rupanya Allah sedang menyentil jiwa saya. Mereka tampak sabar, walau menunggu harus berjam-jam untuk sebuah makanan. Mereka rela berbaris rapi dalam antrian, untuk sekantum gandum, sekerat roti, atau sejumput daging kering. Mereka, yang sedang didera nestapa, dalam cuaca dingin yang menggigit, harus bersabar untuk sebuah penantian yang kadang tak ada ujung pangkalnya.
Selama-lamanya saya menunggu makan siang, makanan itu pasti datang. Sedangkan mereka, bisa jadi, harus menunggu hingga esok hari. Saya akhirnya mulai sadar, saya tak perlu marah untuk kali ini. Masih ada banyak orang yang tak seberuntung saya, saya bias makan siang dengan nyaman. Saya harus makin sabar dengan semua ini.
……
Ah, akhirnya makan siang itu datang juga. Lalu, saya nikmati makanan itu dalam-dalam, dengan tak henti bersyukur atas karunia-Nya yang begitu besar. Saya telan setiap suap nasi itu, dengan ucapan rasa terimakasih yang dalam. Saya jadi makin sabar siang itu. Dan menunggu, buat saya, kadang tak selalu menyebalkan. Kadang, didalamnya akan terlihat hikmah buat kita…………..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s