Kepemimpinan

Kepemimpinan

Kepemimpinan adalah salah satu konsep yang paling sering dibicarakan dalam dunia bisnis dan organisasi, tapi tidak cukup dimengerti dengan baik. Kepemimpinan berkenaan dangan cara melakukan sesuatu, serta bagaimana orang-orang lain mencapai potensinya masing-masing. Organisasi yang mengalami kegagalan sebagian besar disebabkan oleh kegagalan memunculkan potensi para anggotanya, yang seringkali disebabkan kesalahan dalam konsep kepemimpinannya: mempercayai dan mempraktikkan mitos-mitos dalam kepemimpinan.

Mitos 1: Kepemimpinan adalah satu kemampuan langka yang hanya diberikan sebagai bakat bagi sedikit orang. Banyak yang masih percaya, bahwa seorang pemimpin adalah dilahirkan, bukan dibentuk/dihasilkan. Kenyatannya, hampir semua orang memiliki potensi menjadi pemimpin yang baik. Seperti kemampuan-kemampuan lain yang harus dipelajari, kepemimpinan membutuhkan waktu, latihan, dan berjuta percobaan dan kegagalan untuk menguasainya. Salah satu kunci kepemimpinan yang baik adalah kemampuan untuk memberikan perhatian kepada orang lain. Kunci kedua adalah sense terhadap adanya satu tujuan, visi, dan misi. Seorang pemimpin yang baik memberikan pembinaan dan arahan yang baik kepada orang-orang yang dipimpinnya.

Mitos 2: Para pemimpin adalah mereka yang berkarisma Banyak pemimpin yang berkarisma, namun jika disimak lebih seksama sebagian besar bukanlah orang yang berkarisma. Sebagian pemimpin yang terkenal memiliki sisi buruk pada kepribadiannya. Dalam kepemimpinan, kemampuan terkait hubungan manusiawi jauh lebih penting daripada kemampuan teknis. Bagaimanapun, pemimpin-pemimpin terbaik adalah mereka yang bekerja keras untuk menggapai tujuannya. Pamrih, tujuan, dan misi kita-lah yang akan membuat kita menjadi orang karismatik, dan bukan kondisi disekitar kita.

Mitos 3: Orang-orang dengan posisi tertinggi adalah pemimpin. Idealnya, seseorang yang paling senior akan menjadi pemimpin yang baik. Namun, kepemimpinan yang sebenarnya tidak ditentukan posisi, tetapi oleh tindakan, unjuk kerja, kemampuan, dan efektifitas tindakan.

Mitos 4: Kepemimpinan yang efektif adalah yang berdasar pada kontrol, penekanan, dan manipulasi. Kepemimpinan adalah berkenaan dengan masa depan, bukan sejarah yang telah berlalu. Kata Joel Baker:’Seorang pemimpin adalah seseorang yang anda ikuti, yang anda percaya akan membawa anda kesatu tempat, satu tujuan yang tidak mungkin anda capai sendirian.’ Pemimpin yang baik mendapatkan dan mencari pengikut tanpa memperhatikan penghormatan mereka maupun kemampuan mereka, untuk kemudian menggerakkan mereka untuk bekerja sama menuju satu tujuan tertentu. Orang-orang mau menjadi pengikut berdasar satu kesamaan visi dan tujuan yang dimanifestasikan oleh pribadi sang pemimpin. Pemimpin yang baik mendorong orang-oang disekitarnya menjadi lebih baik dari dirinya.

Mitos 5: Para pemimpin adalah orang-orang yang lebih terpelajar Gelar kependidikan bisa jadi berarti anda mendapatkan pendidikan formal yang baik, namun bukan berarti anda adalah pemimpin yang baik. Ketika terkait dengan kepemimpinan, pengalaman menjadi guru yang terbaik. Salah satu yang telah mempraktikannya misalnya jenjang kepangkatan dalam ketentaraan atau kepegawaian, dimana setiap orang mulai dari jenjang terendah, dan sejalan dengan pengalamannya tanggungjawabnya pun meningkat.

Ada kalimat yang sangat menarik yang dikemukakan oleh Patricia Patton, seorang konsultan profesional sekaligus penulis buku, sebagai berikut:
“It took a heart, soul and brains to lead a people…”
Dari kalimat tersebut di atas terlihat dengan jelas bahwa seorang pemimpin haruslah memiliki perasaan, keutuhan jiwa dan kemampuan intelektual. Dengan perkataan lain, modal yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin tidak hanya intektualitas semata, namun harus didukung oleh kecerdasan emosional (emotional intelligence), komitmen pribadi dan integritas yang sangat dibutuhkan untuk mengatasi berbagai tantangan. Seringkali kegagalan dialami karena secara emosional seorang pemimpin tidak mau atau tidak dapat memahami dirinya sendiri dan orang lain. Sehingga keputusan yang diambil bukanlah a heartfelt decision, yang mempertimbangkan martabat manusia dan menguntungkan seluruh masyarakat, melainkan cenderung egois, self-centered yang berorientasi pada kepentingan pribadi dan kelompok / golongannya.
Patton sekali lagi mengemukakan pendapatnya bahwa di masa kini organisasi tidak hanya membutuhkan pemimpin yang punya kapasitas intelektual. Sebab, yang membuat sukses organisasi adalah pemimpin yang bisa mendapatkan komitmen dari para pengikutnya. Pemimpin seperti itu adalah mereka yang memahami orang-orang dalam kepemimpinannya dengan sepenuh hati dan sanggup memacu mereka bekerja keras mencapai tujuan bersama. Singkatnya, pemimpin yang memiliki kecerdasan intelektual dan emosional.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s